
Namanya Hasan, seorang pedagang kecil di sebuah kota yang sunyi di pinggir laut.
Awalnya, hidupnya sederhana—hanya berjualan keripik singkong di pinggir jalan, dengan penghasilan tak lebih dari satu juta rupiah sebulan. Tapi Hasan punya satu prinsip yang ia jaga seperti menjaga nyawanya sendiri:
“Dari setiap rezeki yang Allah beri, sepertiga akan kembali kepada-Nya.”
Ia membagi uangnya dengan penuh keteguhan:
- Sepertiga untuk keluarganya,
- Sepertiga untuk modal usaha berikutnya,
- Dan sepertiga untuk sedekah.
Orang-orang menertawakannya.
“Hasan, penghasilanmu kecil, kenapa malah dibagi-bagi begitu? Simpanlah, nanti kau kekurangan.”
Hasan hanya tersenyum, “Yang aku simpan di tangan akan habis, tapi yang aku kirim ke langit akan menungguku di sana.”
======
Tahun berikutnya, usaha Hasan berkembang. Dari warung kecil, kini ia punya toko sendiri.
Penghasilannya meningkat menjadi sepuluh juta rupiah sebulan.
Namun, di saat itu pula bisikan mulai muncul: “Sepertiga dari sepuluh juta itu banyak, Hasan. Tiga juta! Bukankah itu bisa untuk menambah stok, atau membayar karyawan?”
Ia terdiam lama. Malam itu ia berdiri di mushola kecil, menatap ke langit-langit yang gelap dan berbisik lirih,
“Ya Allah, bukankah dulu aku bersedekah karena-Mu, bukan karena jumlahnya? Jika dulu aku kuat memberi seratus ribu, kenapa sekarang aku takut memberi tiga juta?”
Keesokan harinya, Hasan tetap menepati janjinya. Ia keluarkan sepertiga dari penghasilannya.
======
Hasan kini memiliki usaha makanan skala nasional. Keuntungannya seratus juta rupiah per bulan. Sekali lagi, bisikan datang — kali ini lebih halus, lebih rasional.
“Kamu bisa bangun pabrik baru, Hasan. Atau sedekahkan saja nanti kalau ada lebih. Toh niatnya tetap baik.”
Tapi hati Hasan bergetar ketika mengingat doa lama di mushola kecilnya: “Ya Allah, jadikan aku tetap ringan memberi, meski tangan ini menggenggam dunia.”
Maka Hasan kembali menepati tekadnya: sepertiga untuk keluarganya, sepertiga untuk usaha, sepertiga untuk sedekah.
Ia tidak pernah hitung lagi berapa banyak ia beri, karena baginya, yang penting janji dengan Allah harus ditepati.
======
Beberapa tahun kemudian, Allah angkat Hasan menjadi pengusaha besar. Usahanya meluas ke luar negeri, dengan penghasilan mencapai satu miliar rupiah per bulan.
Malam itu Hasan duduk di ruang kerjanya, lampu temaram menerpa wajahnya yang mulai beruban.
Ia menatap laporan keuangan yang menunjukkan angka fantastis.
Sepertiga dari satu miliar berarti lebih dari tiga ratus juta rupiah. Tangannya bergetar. Ia membayangkan: berapa banyak rumah yang bisa dibangun dengan uang itu, berapa banyak mobil yang bisa dibeli, berapa banyak “kenyamanan” yang bisa ia miliki.
Namun di saat yang sama, ia juga membayangkan berapa banyak perut lapar yang bisa kenyang, berapa banyak anak yatim yang bisa tersenyum, berapa banyak masjid yang bisa berdiri, berapa Sekolah yang bisa memiliki lahan sendiri, berapa guru yang bisa dibahagiakan. Air mata mengalir di pipinya. Ia mengambil pena dan menulis di buku catatannya:
“Ya Allah, Engkau telah menepati janji-Mu untuk menambah rezekiku. Kini izinkan aku menepati janjiku untuk tidak berubah.”
===========
Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah? Dia akan melipatgandakan (pembayaran atas pinjaman itu) baginya berkali-kali lipat. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki). Kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Al-Baqoroh : 245)
Wakafsai.org